![]() |
| hipwee.com |
"Udah lama tidak berjamaah shalat Subuh. Ah, besok pagi lah," gumamku dalam hati.
Kebiasaan tidur pukul dua dini hari setelah pulang kerja, sehingga bangun pagi mendengar azan subuh terasa agak berat. Walaupun menunggu azan subuh satu jam lebih lagi tetap saja mata tidak bisa diajak kompromi, tapi kalau sudah diniatkan, akhirnya bisa shalat Subuh berjamaah.
Pagi itu alarm berbunyi pukul 04.10, aku bisa bangun dengan segar. Udara pagi hari yang sejuk membuat aku bersemangat. Dengan waktu tempuh sekitar 8 menit, tiba juga di masjid jami di kompleks perumahan dekat mes tempat aku dan teman-teman kantor tinggal.
Azan subuh pukul 04.30, aku sudah berada di masjid. Masjid yang tampak megah setelah satu bulan yang lalu direnovasi. Setelah shalat tahiyatul masjid dan menunggu beberapa menit, jamaah yang lain datang. Akhirnya seorang jamaah iqamah tanda shalat jamaah segera dimulai.
Setelah berkumpul semua jamaah, hanya terbentuk satu saf (baris), sebagian besar bapak-bapak yang sudah tua ditambah anak kecil setingkat SD yang biasa mengaji Alquran setelah shalat. Sepertinya di mana-mana sama bila jamaah subuh paling banyak dua saf saja.
Rakaat pertama, bacaan Al-Fatihah imam dan surat Al-Baqarah ayat 48 sampai 55 terdengar fasih, walaupun sang imam sudah berumur sekitar 60 tahun. Begitu pun pada rakaat kedua, bacaan surat setelah Al-Fatihah membaca dua ayat dari surat Ali Imran, ayat 103 sampai 105.
Ah, kalau aku belum tentu hapal bacaan surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran yang tadi imam baca. Ada rasa kagum pada sosok imam shalat Subuh tadi.
***
Ketika ada libur kerja malam Selasa, kusempatkan shalat Magrib berjamaah di musala terdekat dari mes. Untuk bisa bersosialisasi dan mengenal akrab dengan penduduk sekitar, salah satu caranya dengan ikut shalat berjamaah di masjid.
Musala yang berukuran kurang lebih 5 x 6 meter, saat itu jamaah shalat Magrib hanya terdiri 2 saf dengan jamaah kurang lebih 18 orang.
Aku jadi makmum masbuk. Ketika datang di mushala itu, imam sedang membaca ayat ketiga dari surat Al-Fatihah. Segera aku takbiratul ihram dan mendengarkan bacaan imam. Sang imam yang berumur kurang lebih 50 tahunan bacaannya kurang fasih ketika membaca surat Al-Fatihah, begitu juga surat Al-Humajah. Terdengar bacaan yang semestinya dibaca panjang (2 harakat), tapi ini tidak. Juga ketika membaca ’ain dibaca a (alif) pada ayat terakhir. Beda huruf akan berbeda juga maknanya.
***
Sebenarnya bukan maksud untuk jadi pengkritik atau sok pintar tentang pengetahuan ilmu tajwid dan makharijul huruf sang imam shalat Magrib itu, hanya memang terkadang kita kurang memperhatikan bacaan Al-Fatihah atau surat lainnya dalam shalat.
Terkadang kita merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang didapat waktu mengaji di masa kecil yang biasanya diisi dengan hafalan, itu masih beruntung. Sehingga ketika dewasa, hanya bacaan yang sudah terbiasa kita lafalkan yang kita pakai dalam shalat. Apalagi yang sama sekali tidak mengaji ketika kecil, bagaimana dengan bacaannya?
Tuntutan bagi imam shalat adalah harus benar-benar menguasai ilmu tajwid dan juga ilmu lainnya. Oleh karena itu, mari perbaiki hafalan kita dengan membuka kembali Alquran, lalu membaca dan membandingkannyan dengan yang telah kita hafal, apakah sudah benar atau tidak? Kemudian menambah hafalan surat dan mengetahui terjemahan dari hafalan kita, itu lebih baik lagi. Hal ini tidak bisa dianggap sepele, apalagi kita jadi imam shalat.
Lalu, bagaimana dengan bacaan shalat kita?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar