"Bu, anak saya jatuh dari tangga di rumah. Harus ke dokter secepatnya dan perlu uang sejumlah xxx. Kalau tidak, kakinya bisa cacat seumur hidup. Nanti uang dikembalikan awal bulan depan setelah saya gajian," ujar teman kuliah istriku dengan nada memelas. Ia datang di siang hari yang panas ketika istriku baru pulang dari sekolah.
Dengan sedikit bingung dan banyak pertimbangan, akhirnya istriku meminjamkan sejumlah uang kepada teman kuliahnya itu. "Hmm... ini, Bu, uangnya," kata istriku sambil menyodorkannya.
Sore harinya baru istriku mengabarkan bahwa ia telah meminjamkan sejumlah uang kepada teman kuliahnya yang juga seorang guru. Serbasalah memang. Bila tidak dikasih, ia tidak tega mendengar kesusahan yang dialami temannya. Tapi, bila dikasih pinjaman pun, uang itu dipakai untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Mendengar kabar itu, aku tidak bisa menyalahkan istriku yang tidak meminta izin terlebih dahulu karena darurat dan tidak tega kalau tidak segera ditolong. Walaupun seharusnya izin dari seorang suami itu penting, tapi hal itu aku maklumi dan mengingatkan jangan sampai terulang.
***
Satu bulan setelah itu, istriku diberi tahu salah seorang teman dekat di kampusnya bahwa akan ada bantuan berupa beasiswa dari pusat untuk para guru yang masih kuliah dan masuk semester akhir, harus membuat proposal, dan melengkapi persyaratan lainnya, termasuk rekening bank dan menyertakan nomor telepon. Beasiswa itu tiap tahun ada dan hanya diperuntukkan bagi tiga orang di setiap kabupaten.
Dengan susah payah istriku yang sedang hamil tua waktu itu mengurus semua surat-surat dan persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari ia mengurus surat-surat itu, bolak-balik ke sekolah dan Kanwil Depag. Ia mengurusnya sendiri, aku tidak bisa mengantarnya karena berada di luar kota. Kasihan juga kalau aku melihatnya dan tahu seperti itu.
Setelah menyelesaikan sidang skripsi, aku dan istriku mulai mengumpulkan uang lagi, menabung untuk biaya wisuda nanti. "Sidang sudah, sekarang yang kita hadapi adalah biaya wisuda. Pasti biayanya lebih besar dibandingkan biaya sidang kemarin," ucapku ketika ngobrol santai dengan sang istri pada malam hari.
Aku menghitung-hitung berapa kira-kira biaya wisuda tahun ini dengan membandingkan biaya pada tahun kemarin dan berapa uang yang harus disisihkan per bulan dari gaji yang kami peroleh.
Istriku pernah mengeluh betapa susahnya menanyakan uang yang pernah dipinjamkan kepada temannya itu. "Ibu itu kayaknya nggak pernah ngerasa kalau ia punya utang. Kalau ketemu di kampus, dia acuh tak acuh. Tidak pernah ada omongan minta maaf belum bisa mengembalikan uang, apalagi mencicilnya. Janjinya awal bulan tapi sampai sekarang tidak pernah membayar sepeser pun," gerutu istriku.
Lima bulan kemudian, berdasarkan informasi dari pegawai kantor Depag bahwa istriku termasuk di antara guru yang mendapatkan beasiswa itu dan disuruh mengecek ATM karena bantuan langsung ditransfer ke rekening. "Bu, besok tolong cek rekeningnya ya. Beasiswa sebesar Rp xxx juta sudah ditransfer dari pusat," kata seorang pegawai kantor Depag melalui telepon. Ketika dicek melalui ATM, ternyata alhamdulillah saldo di rekening bertambah. Uang tersebut sangat besar bagi kami, bisa untuk bayar wisuda nanti dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung, biaya kuliahnya selama ini hampir terganti dengan beasiswa yang diterima sekarang.
Kami sekeluarga bersyukur atas rezeki yang Allah berikan ini, sebelumnya istriku pesimistis bisa dapat beasiswa karena yang mengajukan proposal itu banyak sekali. Benar-benar surprise, terima kasih, ya Allah. Semoga rezeki ini bermanfaat dan berkah bagi kami.
"Benar kata Ayah, dulu setiap ada pengumuman dari kampus harus segera melunasi uang semester akhir, sidang, dan lain-lain, kita selalu segera membayarnya. Tidak seperti teman-teman yang lain banyak sekali tunggakan-tunggakan yang harus segera dilunasi menjelang wisuda nanti," ujar istriku dengan manja.
"Sepertinya teman yang enggan bayar utang itu rezekinya Allah tutup-tutupi dan itu merugikan diri sendiri," ujar istriku lagi.
"Mumpung ada rezeki, Sayang. Toh sekarang uang semester akhir itu kita bayar, nanti juga waktu pengambilan ijazah utang itu kita harus bayar. Biarlah teman (punya utang) itu kita serahkan urusannya kepada Allah," balasku.
"Beasiswa ini rezeki dari Allah, berkat jerih payah engkau, Sayang, dan doa kita selama ini. Menjelang ulang tahun perkawinan kita, Allah memberikan rezeki yang tidak kita sangka, juga amanah anak yang Dia titipkan," ucapku kepada istri yang menggendong bayi mungil kami dengan semringah.
Teringat sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa (yang berutang) di dalam hatinya tidak ada niat untuk membayar utangnya, maka pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi piutang. Jika masih belum terpenuhi, maka dosa-dosa yang memberi utang akan dialihkan kepada orang yang berutang." (HR Baihaqi, Thabrani, Hakim).
Dengan sedikit bingung dan banyak pertimbangan, akhirnya istriku meminjamkan sejumlah uang kepada teman kuliahnya itu. "Hmm... ini, Bu, uangnya," kata istriku sambil menyodorkannya.
Sore harinya baru istriku mengabarkan bahwa ia telah meminjamkan sejumlah uang kepada teman kuliahnya yang juga seorang guru. Serbasalah memang. Bila tidak dikasih, ia tidak tega mendengar kesusahan yang dialami temannya. Tapi, bila dikasih pinjaman pun, uang itu dipakai untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Mendengar kabar itu, aku tidak bisa menyalahkan istriku yang tidak meminta izin terlebih dahulu karena darurat dan tidak tega kalau tidak segera ditolong. Walaupun seharusnya izin dari seorang suami itu penting, tapi hal itu aku maklumi dan mengingatkan jangan sampai terulang.
***
Satu bulan setelah itu, istriku diberi tahu salah seorang teman dekat di kampusnya bahwa akan ada bantuan berupa beasiswa dari pusat untuk para guru yang masih kuliah dan masuk semester akhir, harus membuat proposal, dan melengkapi persyaratan lainnya, termasuk rekening bank dan menyertakan nomor telepon. Beasiswa itu tiap tahun ada dan hanya diperuntukkan bagi tiga orang di setiap kabupaten.
Dengan susah payah istriku yang sedang hamil tua waktu itu mengurus semua surat-surat dan persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari ia mengurus surat-surat itu, bolak-balik ke sekolah dan Kanwil Depag. Ia mengurusnya sendiri, aku tidak bisa mengantarnya karena berada di luar kota. Kasihan juga kalau aku melihatnya dan tahu seperti itu.
Setelah menyelesaikan sidang skripsi, aku dan istriku mulai mengumpulkan uang lagi, menabung untuk biaya wisuda nanti. "Sidang sudah, sekarang yang kita hadapi adalah biaya wisuda. Pasti biayanya lebih besar dibandingkan biaya sidang kemarin," ucapku ketika ngobrol santai dengan sang istri pada malam hari.
Aku menghitung-hitung berapa kira-kira biaya wisuda tahun ini dengan membandingkan biaya pada tahun kemarin dan berapa uang yang harus disisihkan per bulan dari gaji yang kami peroleh.
Istriku pernah mengeluh betapa susahnya menanyakan uang yang pernah dipinjamkan kepada temannya itu. "Ibu itu kayaknya nggak pernah ngerasa kalau ia punya utang. Kalau ketemu di kampus, dia acuh tak acuh. Tidak pernah ada omongan minta maaf belum bisa mengembalikan uang, apalagi mencicilnya. Janjinya awal bulan tapi sampai sekarang tidak pernah membayar sepeser pun," gerutu istriku.
Lima bulan kemudian, berdasarkan informasi dari pegawai kantor Depag bahwa istriku termasuk di antara guru yang mendapatkan beasiswa itu dan disuruh mengecek ATM karena bantuan langsung ditransfer ke rekening. "Bu, besok tolong cek rekeningnya ya. Beasiswa sebesar Rp xxx juta sudah ditransfer dari pusat," kata seorang pegawai kantor Depag melalui telepon. Ketika dicek melalui ATM, ternyata alhamdulillah saldo di rekening bertambah. Uang tersebut sangat besar bagi kami, bisa untuk bayar wisuda nanti dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung, biaya kuliahnya selama ini hampir terganti dengan beasiswa yang diterima sekarang.
Kami sekeluarga bersyukur atas rezeki yang Allah berikan ini, sebelumnya istriku pesimistis bisa dapat beasiswa karena yang mengajukan proposal itu banyak sekali. Benar-benar surprise, terima kasih, ya Allah. Semoga rezeki ini bermanfaat dan berkah bagi kami.
"Benar kata Ayah, dulu setiap ada pengumuman dari kampus harus segera melunasi uang semester akhir, sidang, dan lain-lain, kita selalu segera membayarnya. Tidak seperti teman-teman yang lain banyak sekali tunggakan-tunggakan yang harus segera dilunasi menjelang wisuda nanti," ujar istriku dengan manja.
"Sepertinya teman yang enggan bayar utang itu rezekinya Allah tutup-tutupi dan itu merugikan diri sendiri," ujar istriku lagi.
"Mumpung ada rezeki, Sayang. Toh sekarang uang semester akhir itu kita bayar, nanti juga waktu pengambilan ijazah utang itu kita harus bayar. Biarlah teman (punya utang) itu kita serahkan urusannya kepada Allah," balasku.
"Beasiswa ini rezeki dari Allah, berkat jerih payah engkau, Sayang, dan doa kita selama ini. Menjelang ulang tahun perkawinan kita, Allah memberikan rezeki yang tidak kita sangka, juga amanah anak yang Dia titipkan," ucapku kepada istri yang menggendong bayi mungil kami dengan semringah.
Teringat sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa (yang berutang) di dalam hatinya tidak ada niat untuk membayar utangnya, maka pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi piutang. Jika masih belum terpenuhi, maka dosa-dosa yang memberi utang akan dialihkan kepada orang yang berutang." (HR Baihaqi, Thabrani, Hakim).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar